Selasa, 26 Maret 2013

Inilah Balasan Bagi Orang Yang Istiqomah












Assalamualaikum wr, wb

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat [41]: 30)

Keimanan kepada Allah menuntut sikap istiqomah. Keyakinan hati, kebenaran lisan dan kesungguhan dalam amal adalah unsur-unsur keimanan yang mesti dijalankan dengan istikamah. istikamah yang berarti keteguhan dalam memegang prinsip, merupakan bukti jelas kekuatan iman seseorang.

Rasulullah shallaluhu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Katakanlah: “Rabbku adalah Allah” dan Istiqomahlah!” (HR Tirmidzi)




Pantas jika Allah menjanjikan keutamaan yang besar untuk orang-orang yang istiqomah dalam imannya. Pada ayat yang disebutkan di muka, menurut ahli tafsir, Allah memberitakan bahwa ketika orang-orang yang istiqomah itu mati, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata,“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Tidak takut dan tidak bersedih. Itulah yang akan dirasakan oleh orang-orang yang istiqomah ketika mereka meninggalkan alam fana ini. Para ulama juga menjelaskan, bahwa maksud tidak takut adalah mereka tidak takut dengan apa yang akan mereka hadapi setelah hari kematian mereka.  Adapun maksud mereka tidak bersedih adalah mereka tidak bersedih dengan apa yang mereka tinggalkan selama di dunia.


Perasaan ini akan dialami oleh semua orang yang istiqomah. Termasuk orang-orang yang ketika di dunia sangat bahagia, berharta dan berkedudukan tinggi. Karena kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat, jauh lebih baik dari apa yang selama ini mereka rasakan di dunia.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman, tidak istiqomah, berlaku maksiat dan sombong, kelak yang akan dirasakannya adalah ketakutan yang mencekam dan kesedihan yang mendalam. Hingga walaupun di dunia mereka adalah orang yang paling sengsara. Karena, kesengsaraannya selama mereka di dunia, masih jauh lebih baik dari kerugian yang akan diterimanya di akhirat.

Orang-orang yang istiqomah itu juga bergembira dengan surga yang dijanjikan Allah; tempat segala kenikmatan, sebagai balasan yang Allah gambarkan dengan firmannya dalam hadis qudsi, “Sesuatu yang tidak ada satu mata pun yang pernah melihatnya, tidak ada satu telinga pun yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam hati manusia.” (HR Bukhari Muslim)


Wallahu ‘alam bish-shawab.


Sumber : muslim.or.id


Senin, 11 Maret 2013

QIYAMAH DALAM PERSFEKTIF ISLAM



Oleh: Agus Junaedi M.ag

Issue Kiamat 2012 kian santer dibicarakan orang dari berbagai kalangan, dari mulai para ilmuan, praktisi ramalan (kahin, dukun), agamawan  serta para pengambil keputusan negara, termasuk para penggembira dunia (kaum seleb) tidak mau ketinggalan beropini terhadapnya. Kiamat 2012 bak bola salju menggelinding  menjadi sebuah issue yang besar yang merubah pandangan, pola pikir, sikap bahkan pada  aspek teologis yang paling sentral kebanyakan orang. Pro dan kontra itulah keadaan yang berkembang dimasyarakat, bukan   pada tataran  pemikiran saja, malah masuk pada ranah keyakinan orang -orang yang beragama.

Persoalan pokok tentang  issue kiamat 2012 bukan pada ada dan tidak adanya kejadian kiamat, melainkan waktu kejadian dipatok tahun 2012, atau tepatnya 21 Desember 2012 yang tentu saja perkara ini bertolak belakang dengan konsep-konsep teologis yang telah mapan dikalangan para penganut agama samawi khususnya kaum muslimin bahwa waktu kejadiannya adalah hak perogatif Allah Subhanahu wa Ta'ala semata tidak ada yang tahu kapan waktu kejadiannya, kewajiban kaum muslimin  cukup mengimani akan kedatangannya, atau tepatnya iman kepada hari ahir.

Iman terhadap hari ahir merupakan salah satu syarat mutlak seorang muslim derajatnya naik mejadi mu'min, sebagaimana disinggung dalam sebuah hadits Nabi dari Umar ibn Khattab:

    اْلإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّه

    (الترمذى ، والنسائى ، ومسلم ، وأبو داود عن ابن عمر عن عمر)

    Iman itu adalah engkau percaya kepada adanya Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab Suci-Nya, utusan-utusan-Nya, hari akhir dan engkau yakin akan ukuran (ketetapan) positif dan negatif-Nya. (H.R Tirmidzi, Nasa'i, Abu Daud dari Umar ibn Khattab).

Yaumul Akhir merupakan istilah lain dari yaumul qiyamah. Jadi seorang mu'min adalah orang yang mengimani akan datangnya qiyamah. Sedangkan arti dan maksud kiamat  umumnya dipersepsi oleh kebanyakan orang adalah peristiwa hancurnya dunia beserta jagat raya yang selanjutnya berganti  dengan alam lain yakni alam akhirat. Pemahaman seperti ini tidaklah salah, namun belum mencukupi maksud qiyamah dalam perspektif al-Islam (Qur'an dan hadits).

Qiyamat berasal dari bahasa Arab dari  kata qa-wa-ma yang artinya; bangkit, berdiri, tegak, teguh. Yaumul Qiyamah berarti hari berbangkit atau hari bangkitnya mahluk (khususnya  golongan jin dan manusia) dari kematian mereka. Sedangkan jika dilihat dari teks (al-Qur'an dan al-Hadits) sekurang-kurangnya ada 20 istilah yang sepadan dengan qiyamah, diantaranya yaumul diin, yaumul khulud, yaumul hasyr, yaumul ‘aqim, al-haqqah dan sa'ah. Dari istilah-istilah tersebut, qiyamah adalah sebuah proses panjang perjalanan mahluk taqlif dari mulai kematian/kehancuran alam, barzakh (kubur), ba'ats (bangkit), mahsyar (berkumpul), hisab (perhitungan), dan jaza (balasan). Jadi istilah  qiyamah tidak boleh dipersepsi dengan kehancuran alam (dunia dan dan jagat raya) saja, namun kehancuran itu merupakan salah satu bagian dari rangkaian qiyamah. Oleh karena kurang tepat dalam mempersepsi qiamah, hingga yang paling dirisaukan, ditakuti adalah huru-hara besar yang menghancurkan dunia dan jagat raya.

Kekeliruan atau sempitnya mempersepsi istilah qiyamah ada beberapa kemungkinan salah satunya adalah adanya pemaksaan terjemahan oleh kalangan tertentu (konspirasi) terhadap istilah-istilah yang sepadan dengan qiyamah dengan terjemahan "kiamat" yang ada dalam teks-teks keagamaan misalnya dalam al-Qur'an dan al-hadits. Sedangkan istilah "qiyamat" tidak diterjemahkan, ia tetap mandiri menjadi sebuah istilah.  Berikut ini adalah contoh  istilah yang semakna dengan qiyamah diterjemahkan dengan "kiamat" ;

•1. الْقَارِعَةُ

hari Kiamat (Al-Qari'ah :1)

•2.     إِنَّ السَّاعَةَ ءاَتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Thaha:187)

•3. وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat".( Al-Hijr :35)

Seharusnya penerjemahan terhadap padanan kata qiyamah tidak dipaksakan dengan terjemahan "kiamat" namun dibiarkan menjadi suatu istilah mandiri atau diterjemahkan menurut asal katanya, karena  setiap istilah dalam  teks-teks al-Qur'an hadits memiliki maksud dan kandungan yang berbeda walaupun maksudnya mungkin sama, berikut ini contoh-contoh istilah dalam al-Qur'an yang dianggap sama tapi memiliki pengertian berbeda;

    1. Kalimat "khauf" (الخوف) dan "khasyah" (الخشية) keduanya sering diterjemahkan dengan "takut" padahal keduanya memiliki perbedaan. "al-Khasyah" adalah rasa takut yang timbul karena agungnya pihak yang ditakuti meskipun pihak yang mengalami takut itu orang kuat. Sedangkan "khauf" rasa takut yang timbul karena lemahnya pihak yang merasa takut meskipun pihak yang ditakuti itu hal yang kecil. Jadi setiap "khasyah" adalah khauf, namun tidak setiap khauf adalah khasyah.

    2. Kalimat "al-Syuhhu" (الشحّ) dan "al-Bukhlu" (البخل) keduanya sering dimaknai "kikir". Padahal keduanya terdapat perbedaan. Al-Syuhhu lebih intens dari al-Bukhlu, yakni al-Syuhhu adalah kebakhilan yang disertai dengan ketamakan, sedangkan al-bukhlu kekikiran biasa. Jadi tidak setiap al-bukhlu adalah al-Syuhhu, tetapi al-syuhhu pasti dia al-bukhlu.

    3. Kalimat al-sabil (السبيل) dengan al-thariq, (الطريق) keduanya sering dimaknai dengan "jalan". Al-sabil istilah yang berkonotasi baik, sedangkan thariq jalan yang bersifat umum, bisa baik bisa buruk. Menurut al-Raghib al-Asfahani, al-sabil adalah al-thariq yang didalamnya ada kemudahan. Setiap sabil adalah al-thariq tapi tidak setiap al-Thariq adalah al-sabil.

Diantara padanan istilah yang sering diterjemahkan dengan "kiamat" adalah istilah "sa'ah" baik dalam  konsepsi al-Qur'an maupun dalam al-hadits. Istilah sa'ah didalam al-Qur'an tersebut dalam 34 ayat, diantaranya dalam surat al-Hajj ayat 55

    وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ

    Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka sa'ah (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka adzab hari kiamat. (al-Hajj:55).

Dari surat al-Hajj:55 sa'ah dan qiamat memiliki konsep yang berbeda, dalam artian sa'ah adalah bukan  qiyamah, tapi qiyamah adalah sa'ah. Hal ini sebagaimana terjadi pada istilah-istilah diatas. Berikut ini  deskriptif  persamaan dan perbedaan istilah sa'ah dan qiyamah.

•A. Qiyamah

•1. Pengertian dan Padanan Istilah  Qiyamah dalam al-Qur'an

Qiyamah (قيامة) berasal dari qa-wa-ma  yang berarti, bangkit, berdiri. Arti asal inilah yang dimaksud qiyamah dalam al-Qur'an. Hari qiyamah artinya hari berbangkit semua manusia setelah kematian atau yaumul ba'ats. Sebagaimana tersebut dalam al-Qur'an surat Al-Mu'minun ayat 16

    ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

    Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (Al-Mu'minun :16)

Yaumul Ba'ats (hari qiyamah) tidak terjadi kecuali diawali dengan proses penghancuran kosmos dengan peniupan shur (terompet) yang merubah watak kosmos yang ada dirubah dengan kosmos yang lain dengan hukum dan watak yang berbeda. Jadi qiyamah atau hari qiyamat adalah proses panjang  yang diawali kehancuran kosmos, kebangkitan dari kubur, perhitungan amal sampai pembalasan amal.

    فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ  وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً  فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ  وَانشَقَّتِ السَّمَاء فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ

    Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup,  dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (al-Haqqah:13-16)

    وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ

    Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.(Yasin :31)

يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً

 yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok,( al-Naba' :18)

    وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ  وَجَاءتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيد

    Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. ( Qaf:20-21)

 Nafakha (نفخ) menurut arti asalnya adalah "naik" dan "tinggi" sedangkan  shur (صور) dari kata sha-ya-ra yang berarti "tempat kembali". Peniupan terompet maksudnya adalah proses secara cepat dalam perubahan kejadian yang merupakan proses ahir. Proses-proses inilah yang digambarkan dalam al-Qur'an dengan padanan istilah dari Qiamat. Al-Qur'an menggambarkan  proses itu sekitar 22 bentuk berikut ini yang merupakan padanan istilah  dari qiyamah;

    1. Yaumul Akhir (اليوم الآخر) dinamakan demikian karena tidak ada hari lagi sesudahnya. Disebut dalam al-Qur'an sebanyak 26 ayat.
    2. Sa'ah (الساعة) dinamakan demikian karena datangnya dengan cepat dan tiba-tiba. Dalam al-Qur'an istilah sa'ah tidak semuanya menunjukan kepada qiyamah.
    3. Yaumul ba'ats (يوم البعث) dinamakan demikian karena adanya kehidupan kembali dari Allah setelah adanya kematian, terutama seluruh manusia dan jin yang mati dihidupkan kembali dan dihimpun di mahsyar. Diantara ayat yang menyebutkan istilah ini pada surat al-Rum : 56

    وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

    Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini (nya).(al-Rum :56)

•5. Yaumul Khuruj (يوم الخروج) dinamakan demikian karena saat itu keluar semuah hamba dari kuburannya ketika  ditiupnya shur. Istilah ini tersebut diantaranya pada surat Qaf :42

    يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ

    (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur).(qaf:42)

•6. Qari'ah (القارعة)  dinamakan demikian karena keadaanya sangat menguncangkan jiwa yang mengalaminya. Ia menjadi nama salah satu surat al-Qur'an surat ke 101.

•7. Yaumul al-fashl (يوم الفصل)  dinamakan demikian  karena Allah akan memberikan keputusan tentang perkara-perkara yang senantiasa berselisih  hamba tentangnya. Disebut  dalam 6 ayat dalam al-Qur'an  yaitu; 37:21, 44:40, 77:13,14,38,  78:17

•8. Yaumul al-Diin (يوم الدين) dinamakan demikian karena pada hari itu Allah akan memberikan balasan dan perhitungan bagi hamba-hamba-Nya. Disebut 13 ayat yaitu; 1:4, 15:35, 26:82, 37:20, 38:78, 51:12, 56:56, 70:26, 74:46, 82:15,17,18, 83:11

•9. Al-shakhah (الصاخة) dinamakan demikian karena kejadiannya sangat memekakan pendengaran. Istilah ini tersebut dalam surat ‘Abasa ayat 33;

    فَإِذَا جَاءتِ الصَّاخَّةُ

    Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), (‘Abasa:33)

•10. Al-thamatul al-Qubra (الطامة الكبرى) dinamakan demikian karena ia merupakan malapetaka yang sangat besar  dalam segala hal yang sangat menakutkan. Istilah ini tersebut dalam surat al-Nazi'at ayat :34;

    فَإِذَا جَاءتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى

    Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. (al-Nazi'at:34)

•11. Yaumul Hasyr (يوم الحسرة) dinamakan demikian  karena  besarnya penyesalan dari hamba yang meratapinya tidak bermanfaat. Seperti terlukis dalam surat al-An'am ayat : 31

    َتَّى إِذَا جَاءتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُواْ يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا

    sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", (Al-An'am:31)

•12. Al-Ghasyiah (الغاشية) dinamakan demikian karena karena diliputi kaum kafir dengan diksaan dari segala penjuru arah, sebagaimana tersebut dalam surat Al-Ankabut:55

    يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ

    pada hari mereka ditutup (dikepung) oleh adzab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka): "Rasailah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan"(al-Ankabut :55)

•13. Yaumul Khulud (يوم الخلود) dinamakan demikian karena pada hari itu setiap manusia menuju tempat  kekekalan, orang kafir masuk ke neraka, orang mu'min masuk surga mereka sama-sama kekal didalamnya, sebagaimana tersebut dalam surat Qaf :34

    ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ

    masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (qaf:34)

•14. Yaumul hisab (يوم الحساب) dinamakan demikian, karena ia merupakan waktu Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya. Sebagaimana  disebutkan dalam surat Shad ayat 26

    إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

    Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan (shad :26)

•15. Al-Waqi'ah (الواقعة) dinamakan demikian  karena  benar adanya tentang hari kiamat. Waqa'a artinya ada. Sebagaimana disebut dalam surat al-Waqi'ah

    إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ

    Apabila terjadi hari kiamat, (al-Waqi'ah:1)

•16. Yaumul wa'iid (يَوْمُ الْوَعِيدِ) dinamakan demikian karena merupakan  perjanjian Allah dengan hamba-hamba-Nya mengenai balasan amal perbuatan. Sebagaimana disebut dalam surat Qaf ayat 20;

    وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ

    Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman.(Qaf:20)

•17. Yaumul al-‘Azifah (يَوْمَ الْآزِفَةِ) dinamakan demikian karena  saat itu saat yang dapat menggoncangkan jiwa, sebagaimana disebut dalam surat Al-Gafir ayat 18;

    وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ

    berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. (Al-Gafir :18)

•18. Al-Haqqah (الحاقة) dinamakan demikian karena dia merupakan hari  setiap urusan mendapat ganjaran masing-masing,

    الْحَاقَّةُ - مَا الْحَاقَّةُ

    Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? (al-Haqqah 1-2)

•19. Yaumul al-Jam'I (يوم الجمع) dinamakan demikian karena pada waktu itu merupakan hari berkumpulnya manusia dan jin semuannya untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.

    وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ

    Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada umulqura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya.(al-Syuuraa:7)

•20. Yaumul al-Talaq (يوم التلاق) disebut demikian karena pada hari itu hari bertemunya penghuni langit dan penghuni bumi, bertemunya antara Khalik dan mahluk, juga hari bertemunya antara yang dzalim dan yang didzalimi.

    رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ

    (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai Arasy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat),(al-Ghafir:15)

•21. Yaumu al-Tanad (يَوْمَ التَّنَادِ) dinamakan demikian karena pada hari itu setiap manusia dipanggil namanya untuk menjalankan perhitungan amal dan menerima balasannya, juga  hari saling panggil memanggil antara ahli syurga dengan ahli neraka,

    وَيَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ

    Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil, (al-Ghafir :32)

•22. Yaum al-Taghabun (يَوْمُ التَّغَابُنِ) dinamakan demikian karena pada hari itu diperlihatkannya kesalahan-kesalahan

    يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ

    (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. (al-Taghabun:9)

•23. Yaumul al-‘Aqiim () dinamakan demikian karena pedihnya siksaaan yang diterima para pembuat dosa.

Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka adzab hari kiamat.(al-Hajj :55)

Berdasarkan analisis dari 70 ayat yang mengandung  kata "qiyamah" , dalam konteks al-Qur'an semuanya disebut dalam bentuk frasa  "yaumul qiamah" (يَوْمَ الْقِيامَةِ) dan menunjukan kepada waktu, situasi, kondisi setelah kehancuran bumi dan langit antara lain; kebangkitan, pengumpulan, peradilan, penghukuman. Maka penggunaan istilah KIAMAT yang menunjukan kehancuran total bumi dan langit, dianggap kurang tepat kalau didasarkan pada kandungan  teks ayat.

Adapun  mengenai padanan istilah qiyamah yang menunjukan kepada kehancuran total alam semesta seperti  al-sa'ah, thamatul qubra, al-waqi'ah semuanya merupakan pembuka akan datangnya yaumul qiyamah.

•2. Pengertian Qiyamat dalam Hadits

Merujuk kepada hadits shahih , "qiyamah" (قِيامَةِ) tidak pernah disebut dalam bentuk nakirah, begitu juga "al-Qiyamah" (الْقِيامَةِ) dalam bentuk ma'rifat dengan alif-lam tidak ditemukan kecuali sedikit yang semuanya menunjukan kepada makna "yaumul al-qiyamah. Jadi Qiyamah dalam kontek hadits senantiasa disebut dalam Frasa " yaumul qiamah" (يَوْمَ الْقِيامَةِ) . Frasa ini disebut dalam kitab hadits shahihani (shahih Bukhari dan Muslim) diatas angka 200 kali, dengan rincian sebagai berikut;

    a. Kitab Shahih Bukhari tersebut 288 kali
    b. Kitab shahih Muslim tersebut 212 kali
    c. Kitab Al-Lu'lu wal Marjan atau Muttafaqun ‘alaih (disepakati oleh keduanya) tersebut 54 kali.

Diantara matan hadits yang berkenaan dengan frasa "yaumul qiyamah" (يَوْمَ الْقِيامَةِ) yang disepakati oleh Bukhari-Muslim (mutafaqun ‘alaih) adalah sebagai berikut;

        1) Bersumber dari Tsabit ibn Dhahak

    وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ في الدُّنْيا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيامَةِ، وَمَنْ لَعَنَ مُؤْمِنًا فَهُوَ كَقَتْلِهِ، وَمَنْ قَذَفَ مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِه

    Barang siapa bunuh diri didunia dengan sesuatu alat, maka dia akan disiksa dengan alat itu pada hari qiyamah, barang siapa melaknat seorang mu'min maka dia sama dengan membunuhnya, dan barang siapa yang menuduh seorang mu'min dengan kekufuran, maka dia sama dengan membunuhnya (H.R Bukhari-Muslim).

    2) Bersumber dari Abu Hurairah r.a

    أَنَّ النَّاس قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ: هَلْ تُمَارُونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ دُونَهُ سَحَابٌ قَالُوا لاَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: فَهَلْ تمَارُونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ قَالُوا لاَ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: فَإِنَّكمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    ِ"Sesungguhnya orang-orang (para shahabat) bertanya, Hai Rasulullah, "Apakah kami semua dapat melihat   Allah pada hari qiyamah ? Nabi menjawab, "Apakah kalian terhalang untuk bisa melihat bulan saat bulam purnama yang tidak terhalang oleh awan?, Tidak ya RAsulullah! jawab para sahabat, Rasulullah bertanya kembali, " Apakah kalian terhalang melihat matahari saat siang hari yang tidak terhalang awan? Tidak ya Rasulullah! jawab para shahabat, Rasul berkata lagi, Sesungguhnya kalian akan dapat melihat-Nya saat manusia dikumpulkan pada hari kiamat (H.R Bukhari-Muslim)

    3) Bersumber dari Anas ibn Malik

    يَجْمَعُ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقولُونَ لَوِ اسْتَشْفَعْنَا عَلَى رَبِّنَا

    Allah mengumpulkan manusia pada hari qiyamah, dan mereka berkata "seandainya kami mendapat safa'at dari sisi Tuhan kami..... (H.R Bukhari Muslim)

    4) Bersumber dari Abu Hurairah r.a

    إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارٍ الْوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

    "Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari qiyamah dengan wajah yang berbercahaya terang benderang karena bekas air wudlu, maka barang siapa yang ingin cahayanya terus bersinar maka lakukanlah (senantiasa berwudlu). (H.R Bukhari-Muslim)

    5) Bersumber dari Sahl

    إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ: الرَّيَّانُ، يدْخلُ مِنْهُ الصَّائمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائمُونَ، فَيَقُومُونَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

    Sesungguhnya dalam syurga itu ada sebuah pintu yang disebut "Al-Rayyan" yang dimasuki pada hari Qiyamah oleh orang yang bersaum. Tidak ada yang masuk kedalamnya kecuali mereka, maka dipanggil ! Mana orang yang shaum ?, maka berdirilah orang yang shaum, maka tidak ada yang masuk kedalam pintu itu selain dari mereka, apabila mereka telah masuk, maka dikuncilah pintunya sehingga tidak ada yang dapat masuk kedalamnya seorang pun. (H.R Bukhari Muslim).

Dari hadits-hadits diatas, pengertian  yaumul qiyamah, menunjukan kepada waktu, situasi, keadaan, kondisi setelah kematian. Artinya pengertian  qiyamat dalam konteks hadits, tidak menunjukan kepada kejadian hancurnya dunia dan langit atau alam semesta, melainkan sesudahnya. Jadi kalau kehancuran alam semesta disebut sebagai KIAMAT jelas istilah ini tidak tepat digunakan kalau merujuk kepada istilah dalam hadits.

•3. Analisis struktur kata dan makna qiyamah dalam Al-Qur'an dan hadits

Dari analisis ayat dan matan hadits shahih, struktur kata dan makna qiyamah adalah sebagai berikut;

    a. Kata "qiyamah" seluruhnya disebut dalam bentuk ma'rifat idhafi (kata benda yang telah jelas) dengan kata yaum (hari) sehingga membentuk frasa al-Qur'an dan hadits yang baku "yaumul al-Qiyamah" (يَوْمَ الْقِيامَةِ). Dia tidak menunjukan kepada ukuran waktu (kuantitaf) namun pada keadaan waktu (kualitatif).

    b. Kata "qiyamah" tergolong kata yang dikira mutarodif (sinonim) dengan padanan katanya, padahal qiyamah dengan padanan katanya memiliki pengertian berbeda walaupun ada kesamaan.

    c. Kata "qiyamah" memiliki makna dasar "hari berbangkit" dan dia tidak memiliki makna selainnya.

    d. Kata "qiyamah" tergolong muqayyad (terikat) sehingga memiliki pemaknaan yang jelas.

    e. Kata "qiyamah" baik dalam konteks al-Qur'an maupun dalam konteks hadits tidak pernah dihubungkan (munasabat) dengan lafadz-lafadz yang menunjukan tentang waktunya, seperti lataqumu (tidak akan terjadi), Asyrat (syarat-syarat), ‘alamatun (tanda), ayatun ( cirri-ciri). Sehingga kejadiannya merupakan hak perogatif Allah semata.

SA'AH, BUKAN QIYAMAH

(Islam Menjawab Isu Kiamat 2012) 
Oleh: Hafid A. Ghani



Ada prakiraan mengatakan kiamat akan terjadi pada bulan Desember 2012. Prakiraan ini ramai diperbincangkan orang di media masa cetak, media elektronik, dan lain-lain. Sebelumnya, sudah sering terdengar kabar burung yang memprediksikan bahwa kiamat akan terjadi pada waktu tak lama lagi. Ada yang bersumber dari peramal, ada yang konon bersumber dari penjaga pintu makam Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dlsb. Karena sudah sering kali timbul, bule­tin Tafsir kali ini mengajak pembaca untuk menelaah pokok-pokok masalah berkenaan kiamat sesuai ajaran al-Qur'an, agar pemahaman tidak melenceng, dan akidah tidak goyah gara-gara berbagai prakiraan atau berita burung.

Meluruskan Pengertian.
Dalam al-Qur'an terdapat 71 buah kata yaum al-qiyaamah. Artinya Hari Kiamat. Tidak ada kata al-qiyaamah yang berdiri sendiri, melainkan selalu didahului kata yaum sebagai mudhof, dan kata al-qiyaamah sebagai mudhofun ilaih. Yaum al-qiyaamah itu menunjuk waktu yang berlangsung lama, tidak sekedar sehari yang 24 jam. Yaum al-qiyaamah itu berlangsung bisa ribuan tahun. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu. ( Q.S Al-Hajj 22:47). Sehari Hari Kiamat itu ialah kurun waktu terjadinya perubahan dan kehancuran benda-benda alam semesta ini. Perubahan dan kehancuran itu bukannya terjadi dalam waktu sehari 24 jam, dan bukan pula mendadak. Perubahan dan kehancuran itu akan terjadi bertahap-tahap. Selama Hari Kiamat itu langit 7 lapis, langit dunia, galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan bumi dengan segala isinya akan diubah, dihancurkan, dan kemudian disusun kembali menjadi alam baru, terdiri dari Bumi Baru dan Langit Baru. Pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain, dan (demikian pula) langit. Dan mereka semuanya berkumpul untuk menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa (di Bumi baru dan Langit baru itu). (Q.S. Ibrahim 14:48). Bumi dan Langit yang ada sekarang disebut Alam Dunia, dan Bumi Baru dan Langit Baru itu nanti disebut Alam Mahsyar. Jika dicermati ayat-ayat Qur'an yang mengandung kata-kata yaum al-qiyaamah yang 71 itu, dapatlah dimengerti bahwa istilah Hari Kiamat mencakup macam-macam hari, yaitu :


  • 1.hari kehancuran langit dan bumi ini total (yaum al-qiyaamah)
  • 2.hari kebangkitan manusia sebelum menuju Alam Mahsyar (yaum al-ba'tsi)
  • 3.hari keberangkatan manusia menuju Alam Mahsyar (yaum al-hasyri)
  • 4.hari pengumpulan manusia di Alam Mahsyar (yaum al-jam'i)
  • 5.hari pengelompokan manusia di Alam Mahsyar (yaumun majmuu')
  • 6.hari ketakutan di Alam Mahsyar ( yaum at-Taghabun)
  • 7.hari penghitungan amal di Alam Mahsyar (yaum al-hisab)
  • 8.hari pembobotan amal di Alam Mahsyar (yaum al-wazni)
  • 9.hari keputusan di Alam Mahsyar (yaum al-fashli)
  • 10.hari kekal manusia di Alam Baqa' di Surga dan di Neraka (yaum al­khulud).
Sepuluh macam hari ini mempunyai bagian-bagian pula. Sepuluh macam hari ini disebut Hari Agama (Yaumu 'd-Diin). Sebelum hari kehancuran langit dan bumi ini secara total kita mengalami 7 hari yang silih berganti, yakni Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Tujuh hari ini disebut Hari Dunia, alias Hari Bumi, ditandai terbit dan tenggelamnya matahari. Diantara 7 Hari Dunia itu pasti ada hari akhir (al-yaum al-aakhir), yakni hari akhirnya setiap orang, yaitu hari kematiannya. Kematian seseorang atau beberapa orang atau sejumlah besar orang atau punahnya semua manusia dari muka bumi ini pada waktunya itu disebut Sa'ah. Sebagaimana ditunjuk oleh ayat-ayat al-­Qur'an, antara lain surat Al-An'Am 6:31 dan 40; surat Al-A'raf 7: 87; surat Yusuf 12:107; surat Al-Hijr 15:85; surat An-Nahl 16:77; surat Al-Kahfi 18:21; surat Maryam 19:75; surat Thaahaa 20:15; surat Al-Anbiya 21:49; surat Al-Hajj 22:1, 7 dan 55; surat Al-Furqaan 25:11; surat Ar-Ruum 30:12, 14, 55; surat Luqman 31:34; surat Al-Ahzab 33:63; surat Fushshilat 41:47; surat As-Syuraa 42:17-18; surat Az-Zukhruf 43:61, 66, 85; surat Al-Jaatsiyah 45:27, 32; surat Muhammad 47:18; surat Al-Qamar 54:46, dan surat An-Naazi'at 79:42. Kehancuran atau perubahan benda-benda alam tertentu pada waktu tertentu disebut dengan bermacam sebutan, seperti al­qari'ah, zalzalah, shookhoh, thoommah, dan lain sebagainya.

Selama ini terdapat kerancuan di kalangan kaum muslimin. Kerancuan yang pertama terletak pada istilah 'kiamat' yang diartikan kehancuran benda-benda alam mendadak dalam waktu satu hari saja. Bumi, langit, dan bintang-bintang akan serentak hancur pada hari itu. Yang kedua menyamakan 'kiamat' yang diartilkan peristiwa kehancuran mendadak itu tadi dengan yaum al-qiyaamah yang berkonotasi babak-babak waktu. Kiamat dengan yaum al-qiyaamah, dicampur adukkan. Ketiga, menyamakan 'kiamat' dengan 'Sa'ah', sehingga hampir semua kata Sa'ah dalam al-Qur'an dan Hadits diartikan 'kiamat', padahal kiamat itu berproses, sedangkan sa'ah mendadak (baghtatan)... Apa yang disebut-sebut sebagai kiamat selama ini seharusnya diganti dengan sebutan Sa'ah, sebab langit dan bumi ini baru mengalami perubahan dan kehancuran sebagian-sebagian saja, belum hancuran total.

Tahun 2012 Itu Sa'ah.


Sekarang bulan November 2009. Kalau kiamat akan terjadi tahun 2012, itu berarti 3 tahun kedepan. Jika dihitung dari hari Jum'at tgl. 27 November 2009 ini, itu beratti akan tetjadi pada kurang lebih 1.100-an hari lagi. Apa sajakah yang akan dialami oleh benda-benda di bumi, benda-benda di langit, dan benda-benda di alam raya ini dalam kurun waktu 1.100-an hari kedepan itu?
Yang sudah, sedang, dan akan tetjadi ialah perubahan-perubahan bertahap, bergilir, dan berkelanjutan. Gempa-gempa tektonik, gempa-gempa vulkanik, tanah longsot, banjir, angin puting beliung, bermacam-macam badai, pasang naik dan pasang surut air laut, perubahan-perubahan evolusif pada benda-­benda langit dan galaksi-galaksi, merosotnya kadar panas matahari, kematian manusia dan kelahiran bayi-bayi, dan lain-lain. Tidak satu pun dapat kita pastikan detik kapan atau menit kapan terjadinya. Hanya Allah yang tahu pasti detik dan menitnya (innamaa 'ilmuhaa 'inda 'l-laah), dan bagi kita mungkin dirasakan mendadak (baghtatan). Karena tidak dapat dipastikan dan kemungkinan mendadak, maka itu disebut Qur'an dengan istilah SA'AH, bukan qiyaamah. Dan tak ada satu negeri pun melainkan Kami membinasakannya sebelum Hari Kiamat ... (Q.S. Al-Israa' 17:58). Termasuk semua manusia penghuninya. Hari Kiamat akan terjadi pada waktu dimana tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini, manusia sudah punah. Sa'ah terjadi selagi manusia masih menghuni bumi ini. Hari Kiamat itu diterangkan panjang lebar dalam puluhan ayat al-Qur'an, dan tidak dinyatakan sebagai 'rahasia' yang hanya diketahui Allah. Yang dirahasiakan ialah Sa'ah, sebagaimana dijelaskan dalam sutat Al-A'raaf 7:187 dan surat Al-Ahzab 33 :63.

Maka dapatlah dipastikan, secara ilmul yaqin, bahwa di tahun 2012 belum dan tidak akan tetjadi Hari Kiamat dan Kiamat. Sebaliknya yang terjadi hanyalah Sa'ah. Dari dulu hingga detik ini pun telah tetjadi sa'ah-sa'ah, berupa kematian manusia atau pun perubahan-perubahan pada benda-benda alam. Inilah sikap dan hujjah yang harus difahami dan dipegang oleh setiap muslim ketika menghadapi berbagai isu kiamat, baik yang datang dari orang-orang kafir maupun yang datang dari orang-orang Islam yang tidak faham atau salah faham. Inilah pula sikap dan hujah yang harus difahami dan dipegang oleh setiap muslim menghadapi orang-orang yang tidak beriman kepada keterangan ayat-ayat al-Qur'an.

Problem Internal.


Bukan soal kiamat 2012 yang seharusnya diramaikan perbincangannya, dan bukan pula perbincangannya itu yang mengherankan, melainkan jauh lebih mendasar daripada itu, yaitu salah-fahamnya umat Islam tentang akidah Islam mengenai Hari Kiamat, dan kejumudan umat ini dalam kungkungan taklid buta sehingga lelap dalam kesalahan yang fatal betabad-abad. ltu semua disebabkan sikap 'kufur juhud' atau 'kufur 'aniid' terhadap ayat-ayat al-Qur'an. Kufur juhud atau aniid itu disebabkan oleh cara berpikir yang masih jauh dari cara berpikir qur'ani (mantiq al-qur'an). Umat dan ulama-ulama masih terlalu banyak yang berpikir menurut cara pikir Barat atau cata pikir Timur atau cata pikir Liberal. Cara-­cara pikir yang dipakai itulah yang membuat umat ini tidak faham jiwa dan cita al­-Qur'an. Demikian kesimpulan (alm) Dr. Muhammad Iqbal dalam bukunya Membangun Kembali Pikiran Agama Dalam Islam. Umat ini disesatkan tanpa sadar oleh pikiran klasik yang mengaburkan jiwa Islam. Umat ini terperosok dalanm pikiran materialistik yang tentu saja mengandung atheisme, kata beliau.

Perbaikan akidah agaknya masih jauh, terlebih kalau Departemen Agama RI membiarkan saja kerancuan antara Sa'ah dan kiamat. Kata 'Sa'ah diartikan Hari Kiamat 19 kali, diartikan 'kiamat' 10 kali, diartikan Hari Bangkit 5 kali, diartikan 'kematian' 1 kali, dan diartikan 'kebangkitan' 1 kali dalam Terjemahan al-Qur'an Departemen Agama. Yang mana yang benar? Bahkan pada ayat 46 surat al-Qamar satu diartikan hari kiamat dan satunya lagi diartikan kiamat. Ini menunjukkan adanya keraguan dan mengakibatkan kesalahan.

Hubungan Terbitnya Matahari dari Barat dengan Perpindahan Kutub Utara ke Selatan

matahari
Saat ini kan sedang diributkannya perpindahan Kutub Utara ke Selatan begitu juga sebaliknya. Terbayang  tidak bilamana perpindahan kutub itu ada hubungannya dengan salah satu tanda Kiamat, yaitu terbitnya Matahari dari Barat, penasaran?......
Baiklah akan dijelaskan, begini jika Kutub Utara berpindah ke Selatan maka secara harfiah maka Barat dan Timur akan berpindah juga, ya kan? nah secara langsung perubahan kutub akan otomatis mengubah posisi Barat dan Timur.
Investigasi lanjutan mengenai anomali-anomali 2012 tiba pada verifikasi ilmiah yang paling menggetarkan : Prediksi NASA bahwa dalam beberapa tahun ke depan ada kemungkinan terjadi perubahan Kutub Magnet Bumi yang merupakan siklus ribuan tahun dari planet dan bintang.
Meski sulit dipercaya, sebagai contoh NASA mengatakan bahwa pada tahun 2001 bintang kita "Matahari", telah mengalami perubahan kutub tersebut. Namun karena massa Matahari relatif uniform dan kita tidak tinggal disana maka manusia relatif tidak merasakan perubahan ini.
inti-bumi
Seperti kita ketahui bumi dapat diibaratkan sebutir telur dimana kulit telur adalah daratan dan lautan tempat kita berpijak, dan cairan telur adalah material vulkanis logam cair dan inti bumi adalah kuning telur yang merupakan logam padat bersuhu tinggi.
Dan inti bumi inilah yang memiliki medan magnet yang keluar dari Kutub Utara menuju Kutub Selatan yang dikenal dengan Sabuk Van Hallen. Medan magnet ini melindungi bumi dari sinar kosmis Matahari yang memungkinkan kehidupan berjalan dengan normal.
Dalam beberapa dekade terakhir dinyatakan Kutub Utara telah bergeser dalam derajat yang signifikan, dan tidak ada yang bisa memastikan kapan terjadi pergeseran total Kutub Utara menjadi Kutub Selatan ini. Bisa dalam hitungan tahun, atau masih ratusan tahun lagi.
Bukan berarti bumi yang berputar balik, tapi karena inti bumi dan kerak bumi diisi oleh cairan, posisi inti dan keraklah yang sebenarnya berputar (Seperti kuning telur berputar didalam telur yang sedang diam).
pergeseran-kutub
Jadi apakah efeknya terhadap kehidupan di dunia ini? Satu hal yang bisa dipastikan adalah jarum kompas kita tidak akan lagi menunjuk ke arah Utara namun mengikuti kutub magnet Utara yang sudah pindah di Selatan.
Cuma jarum kompas berubah arah? Mungkin saja. Skenario terburuknya malah kemungkinan terjadi sedikit gangguan magnetik yang bisa merusak peralatan elektronik, satelit, pembangkit listrik atau piranti teknologi lainnya.
Ooh, jadi sebenarnya kita tidak perlu khawatir kan? Seperti prediksi Badai Matahari di tahun 2012, upaya pemerintah mungkin lebih kepada mitigasi terhadap kerusakan peralatan GPS dan sarana telekomunikasi.
Jadi benarkah kita tidak perlu khawatir? Coba dipikirkan lagi, apabila kutub magnetik Utara bumi ada di Selatan, darimanakah Matahari kita akan terbit?
2012 mungkin akan jadi pertanda kiamat, jadi mulai bertobatlah dari sekarang!!!!
Dalil-dalil Islam Mengenai Terbitnya Matahari dari Barat
1. Dalil dari Al-Qur’an.
Allah ta’ala berfirman:
يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya” [QS. Al-An’am 6:158].
Beberapa hadits shahih menunjukkan bahwasannya yang dimaksudkan dengan ‘sebagian tanda-tanda (ayat)’ yang disebutkan dalam ayat di atas adalah terbitnya matahari dari arah Barat. Hal itu merupakan perkataan kebanyakan mufassiriin (ahli tafsir).[1]
Telah berkata Ath-Thabariy – setelah menyebutkan perkataan mufassiriin tentang ayat ini :
وأولى الأقوال بالصواب في ذلك ما تظاهرت به الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : ذلك حين تطلع الشمس من مغربها
“Perkataan yang lebih mendekati kebenaran tentang perkara itu adalah apa yang datang dengannya khabar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bahwasannya beliau bersabda: ‘Hal itu terjadi ketika matahari terbit dari arah barat”.[2]
Asy-Syaukaniy berkata :
فإذا ثبت رفع هذا التفسير النبوي من وجه صحيح لا قادح فيه، فهو واجب التقديم، محتَّم الأخذ به
“Apabila telah tetap akan marfu’-nya tafsir nabawiy ini dari jalan yang shahih tanpa ada cacat di dalamnya, maka wajib untuk mendahulukan dan mengambil/menerimanya”.[3]
2. Dalil dari As-Sunnah Ash-Shahiihah
Hadits-hadits yang menunjukkan terbitnya matahari dari arah barat sangat banyak, diantaranya :
a. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
لا تقوم الساعة حتى تطلع الشمس من مغربها، فإذا طلعت، فرآها الناس؛ آمنوا أجمعون، فذاك حين لا ينفع نفسًا إيمانُها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيرًا
“Tidaklah tegak hari kiamat hingga Matahari terbit dari arah Barat.  Apabila ia telah terbit (dari arah Barat) dan manusia melihatnya, maka berimanlah mereka semua. Pada hari itu tidaklah bermanfaat keimanan seseorang yang tidak beriman sebelum hari itu atau belum mengusahakan kebaikan di masa imannya”.[4]
b. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda :
لا تقوم الساعة حتى تقتتل فئتان…(فذكر الحديث، وفيه : ) حتى تطلع الشمس من مغربها، فإذا طلعت، فرآها الناس؛ آمنوا أجمعون، فذاك حين لا ينفع نفسًا إيمانُها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيرًا
“Tidaklah tegak hari kiamat hingga berperang dua kelompok besar kaum manusia….. (yang kemudian di dalamnya disebutkan: ) hingga terbitnya Matahari dari arah Barat.  Apabila ia telah terbit (dari arah Barat) dan manusia melihatnya, maka berimanlah mereka semua. Pada hari itu tidaklah bermanfaat keimanan seseorang yang tidak beriman sebelum hari itu atau belum mengusahakan kebaikan di masa imannya”. [5]
c. Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda :
بادِروا بالأعمال ستًّا : طلوع الشمس من مغربها
“Bersegeralah melakukan amal-amal ketaatan sebelum datangnya enam perkara : terbitnya Matahari dari arah Barat”.[6]
d. Muslim meriwayatkan dari Hudzafah bin Usaid radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda :
إنها لن تقوم حتى ترون قبلها عشر آيات”. فذكر الدخان، والدجال، والدابة، وطلوع الشمس من مغربها، ونزول عيسى ابن مريم صلى الله عليه وسلم….
“Tidaklah tegak hari kiamat hingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya, yaitu : Ad-Dajjaal, kabut (ad-dukhaan), ad-daabbah, terbitnya matahari dari arah barat, turunnya ‘Isa bin Maryam shallallaahu ‘alaihi wa sallam….”.[7]
e. Al-Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata :
حفظتُ من رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثًا لم أنسه بعد، سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إن أول الآيات خروجًا طلوعُ الشمس من مغربها
“Aku menghapal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebuah hadits yang aku tidak lupa setelahnya. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya tanda-tanda (besar hari kiamat) pertama yang akan muncul adalah terbitnya Matahari dari arah Barat”.[8]
f. Dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda pada suatu hari :
أتدرون أين تذهب هذه الشمس ؟. قالوا : الله ورسوله أعلم. قال : إن هذه تجري حتى تنتهي إلى مستقرِّها تحت العرش، فتخرُّ ساجدةً، فلا تزال كذلك، حتى يقال لها : ارتفعي، ارجعي من حيث جئت، فترجع فتصبح طالعة من مطلعها، ثم تجري حتى تنتهي إلى مستقرها تحت العرش، فتخرُّ ساجدة، ولا تزال كذلك حتى يقال لها : ارتفعي ارجعي من حيث جئت، فترجع فتصبح طالعة من مطلعها، ثم تجري لا يستنكر الناس منها شيئًا، حتى تنتهي إلى مستقرها ذاك تحت العرش، فيقال لها : ارتفعي، أصبحي طالعة من مغربك، فتصبح طالعة من مغربها. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أتدرون متى ذاكم ؟. ذاك حين لا ينفع نفسًَا إيمانُها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيرًا
“Apakah kalian mengetahui kemana perginya matahari ?”. Mereka (para shahabat) menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau melanjutkan : “Sesungguhnya matahari terus berjalan hingga berhenti di tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu tunduk bersujud (kepada Allah). Maka terus-menerus ia melakukan hal itu hingga dikatakan kepadanya : ‘Bangkitlah, dan kembalilah dari tempat kamu datang (yaitu arah timur)’. Maka ia pun kembali, dan muncul dari tempat terbitnya. Kemudian ia berjalan hingga berhenti di tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu tunduk bersujud (kepada Allah). Maka terus-menerus ia melakukan hal itu hingga dikatakan kepadanya : ‘Bangkitlah, dan kembalilah dari tempat kamu datang (yaitu arah timur)’. Maka ia pun kembali, dan muncul dari tempat terbitnya. Kemudian ia berjalan dimana manusia tidak mengingkarinya sedikitpun. Hingga ia berhenti di tempat menetapnya di bawah ‘Arsy. Dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah, dan terbitlah dari arah tenggelammu (arah barat)’. Maka ia pun muncul dari tempat tenggelamnya”. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apakah kalian mengetahui kapan hal itu terjadi ? Hal itu terjadi ketika keimanan seseorang yang tidak beriman sebelum hari itu atau belum mengusahakan kebaikan di masa imannya”. [sumber:akhirzaman]


Jumat, 01 Maret 2013

Menjemput Sang Imam Mahdi


 
 Oleh : Nazla El Qorie


A’udzubillahiminasy Syaithonirrojim
BISMILLAHIRRAHMANIRAHIM 
SEBUAH KRITIK TENTANG KEBOBROKAN  AGAMA
UMAT ISLAM DAN  SOLUSI AKAR PERMASALAHANNYA
 Mengungkap Fakta Ternyata Islam Kita 100% salah
(Referensi Wajib Para Aktivis Dakwah)

BACALAH DENGAN HATI BUKAN EMOSI
LIHATLAH DENGAN ARGUMEN BUKAN SENTIMEN
WAHAI MANUSIA YANG MASIH HIDUP AKAL DAN HATINYA
TANGGALKAN SEMUA IDENTITAS, TELANJANGKAN SEMUA
GELARMU, JABATANMU, KEDUDUKANMU,
IKHLASKAN IA HANYA KARNA ALLAH
BACALAH TULISAN INI DENGAN SEPENUH HATI
SeMOGA PENCERAHANLAH YANG KITA TUAI
DAN KEJAYAANLAH YANG KITA CAPAI
AMIN

Akhir-akhir ini banyak sekali  buku-buku referensi yang bertutur tentang fitnah akhir zaman, tanda-tanda kemunculannya, skenario perang dunia III dan kedatangan Sang Imam Mahdi. Bahkan ada buku yang menyebutkan bahwa tahun 2015 adalah tahun kedatangan Sang Imam. Seorang penulis Jerman GH Von Landaw menulis dalam sebuah harian terbesar Jerman, “Tema  pokok seluruh pemikian Islam sekarang ini tepusat pada anggapan bahwa Imam Mahdi yang turun di akhir zaman akan menguasai dunia, mengalahkan bangsa Yahudi dan mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin. Ia adalah laki-laki penggerak teror dan semua itu sudah terlihat secara nyata. Sekalipun demikian, ternyata Imam Mahdi belum muncul juga meski seluruh tanda yang mereka yakini bagi kedatangannya sudah terlihat. Ini membuktikan bahwa Imam Mahdi hanya sekedar mitos tanpa dasar. Akan tetapi harga diri kaum muslimin yang rapuh tetap mempertahankannya dan terus menerus mengumandangkan konsep ini untuk merevitalisasi kelemahan dan mengatasi perpecahan yang melanda seluruh dunia Islam yang menguasai setiap muslim di alam fana ini.”
Selanjutnya penulis Jerman ini menutup dengan kalimat,” Imam mahdi adalah suatu pemikiran, sedangkan pemikiran seringkali mengarah pada kemauan. Bila kemauan menguat, biasanya akan melahirkan mukjizat. Persoalannya apakah kaum muslimin memiliki kemauan kuat belakangan ini yang dari mereka akan tampil sebagai Al Mahdi, Sang Penakluk? Impian mereka bakal terwujud dalam diri siapa saja sepanjang orang itu mereka anggap sebagai Imam Mahdi (dikutip dari Majalah Suara Hidayatullah 01/XIV Jumadil Akhir 1422 H hal 46).
Kita sebagai umat muslim tidak mempercayai pendapat di atas yang menyebut bahwa keberadaan Imam Mahdi hanya sebuah mitos belaka, karena dalil-dalil tentang Imam Mahdi telah jelas disebutkan dalam Al Hadits. Tetapi ada benarnya juga kritiknya yang menghimbau umat Islam bahwa untuk menyambut hadirnya Sang Imam, hendaknya umat ini memiliki kemauan kuat, dan kebulatan tekad untuk bangun dari tidur panjangnya, untuk memperbaharui agamanya, dan mencari pencerahan dalam pola pikirnya. Agar harga diri umat Islam kembali hadir, agar kejayaan kembali datang, dan kita siap menyambut kedatangan sang Imam, mengikutinya dan siap berada di belakang barisannya.
Metode yang paling jitu untuk kembali menuju kejayaan umat adalah dengan mengikuti petunjuk Rasulullah, yaitu mengembalikan umat kepada ilmu, membudayakan berpikir ilmiah, berilmu amaliah dan beramal ilmiah, menekankan amal pada ilmu dan ilmu yang diamalkan. Bukan beragama dengan ikut-ikutan tanpa melalui proses belajar. Dalam Al Qur’an Surat Al Isra’: 36 Allah mencela cara beagama yang hanya ikut-ikutan:
“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabanya.”(Q.S. Al Isra’:36)

Wahai Saudaraku  Al Muslimun……
Bangunlah….
Mengapa kalian masih belum bangkit-bangkit juga dari keterpurukan ini…….
Mengapa kalian masih sibuk dan sibuk dengan dunia kalian, meninggalkan ajaram agama Islam yang murni, mengotori Islam dengan bebagai acara dan tatacara ibadah yang tidak diajarkan nabi, dengan amal-amal yang kalian sendiri tidak tahu dari mana asalnya….tidak tahu atau bahkan tidak ada dalil Al Qur’an dan Al Hadits yang mendasarinya……….
Apakah kalian tidak sadar, musuh-musuh kita telah siap siaga menghancurkan kita…
Meracuni tubuh kita dengan berbagai makanan rekayasa mereka, lezat rasanya tapi membuat usia kita tidak berlangsung lama. MSG, aspartam (pemanis buatan) dan tiroid (dalam ayam potong) telah menjadi menu harian kita. Sampai vaksin berbahaya (yang dikemas dangan label “imunisasi”) telah menjadi jadwal wajib anak-anak kita…..
Apakah kita masih santai-santai saja, berlomba-lomba menumpuk harta, membuat bangunan megah, sibuk dalam urusan dunia kita dan meninggalkan agama kita.
Ingatlah bahwa jika kita meninggalkan agama kita, maka kehinaanlah yang akan menjadi pakaian kita…
Ingatlah bahwa kita adalah umat Islam yang dulu pernah menguasai dunia karena kekuatan imannya, memenuhi bumi dengan cahaya ketauhidan, membawa manusia untuk beribadah pada Allah yang Satu, dan mendamaikan bumi dengan syari’at-Nya….
Pendahulu kita berjaya karena ketaqwaan mereka….
Tetapi, kondisi kita sekarang adalah….
Tak lebih seperti ayam pedaging yang sedang asyik menikmati makanan enak yang diberikan tuannya tanpa sadar setelah itu ia akan dipotong.
Saudaraku Al Muslimun….bangunlah…
Ini adalah tipu daya musuh-musuh kita…
Mereka ingin menguasai dunia, sebagaimana kita dahulu……
Mereka sangat membenci kita dan berusaha untuk menghabisi kita…
Mereka takut, kita akan bangkit, dan memiliki kekuatan untuk meraih kejayaan kembali, yang akan menguasai dan menghinakan mereka. Oleh karena itu mereka sangat membenci kita…
Saudaraku Al Muslimun…sadarlah….
Apakah  kalian tidak menyadari dan mencermati….
Bahwa musuh-musuh kita telah mencanangkan skenario-skenario yang tertata rapi  untuk membuat fitnah dalam tubuh umat ini….sebuah fitnah akhir zaman, sebuah fitnah yang akan menghancurkan kita…banyak sekali referensi dan karya tulis yang membahas tentang masalah ini…tapi kalian tetap saja cuek dan tidak peduli, tidak menyentuh sudut rak di toko buku yang bertema fitnah akhir zaman…..
SAUDARAKU Al Muslimun…
Marilah kita satukan tekad, mengencangkan ikat pinggang, bersikap waspada…, mari kita perbaharui keislaman kita, mengoreksi dan memperbaikinya. Mari kita bersihkan agama kita dari debu-debu bid’ah yang merajalela. Mengembalikan kemurniannya seperti pada masa jayanya…mari kita bertaubat atas segala salah kita, mari kita siapkan diri menyambut Sang Imam akhir zaman yang akan membawa kita pada kebangkitan. Bukan dengan berpangku tangan hanya sekedar menunggu…tapi dengan membersihkan diri kita, agama kita, keimanan kita, agar kita siap, iman kita kuat, untuk menghadapi fitnah akhir zaman yang akan sangat menguji kita, dan siap untuk dibawa kepada kebangkitan dan kejayaan…
Ingatlah pesan Allah dalam Al qur’an:
”Sebahagian besar Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Q.S.Al Baqoroh: 109)

Kami sangat berharap tulisan ini mampu memberikan inspirasi, energi dan pencerahan kepada umat, untuk mengkaji kembali pola pikir beragamanya, mengoreksi, dan membersihkan agamanya. Menggiatkan diri dalam mencari ilmu untuk ibadahnya, untuk agamanya, untuk meninggikan Kalimat Allah, mengembalikan harga diri (izzah) umat Islam, dan mencapai kejayaan kembali. Insyaallah! Karena itulah hal terbaik yang harus dilakukan oleh umat ini.
sumber 

Sunni, Kaum Yang Tertindas di Iran?

Pemilu Iran meninggalkan empat nama: Mehdi Karroubi, Mirhossein Mousavi, Mohsen Rezaei dan Ahmadinejad. Pemenangnya adalah Ahmadinejad. Tapi, sebuah pertanyaan yang terus menggelitik dalam benak para pengamat politik adalah, kemana suara kaum Sunni di Iran diberikan? Seperti diketahui, Ahmadinejad meraih mayoritas suara dari kaum Syiah yang dominan di Iran dan juga kaum Yahudi, dan sudah sejak lama menindas kaum Sunni yang di Iran berjumlah sekitar 15 juta ini.

Penduduk Iran terdiri dari banyak etnis dan golongan mulai dari Kristen, Yahudi, Zoroastrian, Baha’is, Sunni, dan Syiah sebagai golongan penguasa. Namun, di antara golongan-golongan tersebut, kaum Sunni lah yang paling banyak ditindas oleh pemerintah Iran, dikarenakan perbedaan masalah aqidah antara Syiah dan Sunni.
Penghinaan Iran Terhadap Kaum Sunni
Dalam kekuasaan Iran, tak pernah ada ceritanya, orang Sunni duduk dalam kursi pemerintahan. Baik itu untuk menterinya ataupun sekadar calon presiden belaka. Ini terjadi sejak Revolusi Iran yang mengintegrasikan golongan Sunni ke dalam kaum minoritas. Dalam konstitusi Iran, sudah disepakai, presiden Iran haruslah seorang penganut Syiah. Syiah, tak pelak, telah membuat kaum Sunni menjadi sangat inferior.
Penghinaan kaum Syiah terhadap jamaah Sunni bisa dilihat jelas pada ritual Syiah setiap pekannya, misalnya saja dalam acara doa bersama yang memang kerap dilaksanakan berbarengan. Di Iran, kaum Sunni mencapai 20% dari populasi penduduk Iran yang berjumlah 70 juta orang.
Sunni Iran mengalami penekanan yang sistematik selama bertahun-tahun. Pemimpin mereka, seperti Ahmed Mufti Zadeh dan Syeikh Ali Dahwary, dipenjarakan kemudian dibunuh. Pemerintah Iran juga menghancurkan masjid-masjid kaum Sunni, dan melarang adanya pendirian masjid Sunni lainnya sekarang ini. Bandingkan dengan Sinagog Yahudi yang banyak bertebaran di seantero Iran. Bahkan, azdan oleh kaum Sunni pun dilarang oleh pemerintah Iran.
Pengaruh Kaum Sunni Dalam Pemilu
Ada dua faktor yang mendasari analisis terhadap kaum Sunni Iran dalam pemilu. Pertama, kesatuan para pemilih Sunni dibawah pemimpin dan ulama Sunni. Kedua, tekanan internasional yang terus dialamatkan kepada Iran.

Sudah diketahui secara umum, jika bertahun-tahun sudah, kaum Sunni di Iran memilih menjadi golongan putih alias abstain setiap kali pemilu Iran dilaksanakan. Namun tahun 1997, para pemilih Sunni tiba-tiba saja muncul ke permukaan mendukung Khatami, dan menjadi fenomena tersendiri ketika itu.
Di zaman Khatami, yang beraliran liberal cukup dominan, kaum Sunni mulai dapat bersikap lega. Mereka membentuk kekuatan sendiri, dan baru zaman Khatami ini mereka mempunyai radio dan surat kabar sendiri. Kaum Sunni juga mulai bisa menyekolahkan anak-anaknya di universitas-universitas Iran. Tahun 2005, dalam pemilu Iran, Mustafa Moein—yang bertarung dengan Hashemi Rafsanjani, Mehdi Karroubi, dan Ahmadinejad—berjanji akan menempatkan seorang menteri dari kaum Sunni dalam pemerintahnnya.
Namun, seperti yang sudah terjadi, yang terpilih adalah Ahmadinejad, seorang presiden Syiah yang digambarkan sangat sederhana, namun ternyata sangat menekan kaum Sunni. Ahmadinejad juga sering kali mendapat sambutan luar biasa dari dunia internasional karena keberaniannya dalam menentang AS dan Israel, namun anehnya, sampai saat ini, Iran—yang tak lebih besar daripada Iraq yang sudah digempur habis-habisan oleh AS dan sekutu, masih baik-baik saja. Dalam artian, AS tidak pernah melakukan suatu tindakan yang nyata terhadap Iran.
Perkembangan Kaum Sunni
Kaum Sunni Iran hidup di pinggiran dan perbatasan. Sementara kaum Syiah, Kristen dan Yahudi menghuni kawasan kota-kota besar di Iran. Karroubi—sebelum pemilu—berjanji akan merevisi semua konstitusi Iran yang telah bertahun-tahun dilaksanakan, di antaranya adalah dengan melindungi kaum Sunni. Menurut Karoubi, kaum Sunni di Iran tak lebih berharga daripada orang asing di negara itu sendiri. Mousavi—jika terpilih—akan kembali membangun masjid pertama untuk kaum Sunni. Asal tahu saja, kaum Sunni Iran sekarang ini, jika melakukan shalat Jumat, harus di kedutaan besar asing!
Kemarahan kaum Sunni Iran terhadap Ahmadinejad dan pemerintahnya tak lepas dari kebijakan Iran sendiri selama ini. Selain itu juga karena perbedaan aqidah yang sangat besar, yaitu kaum Syiah tak mengakui keberadaan sahabat Rasul (kecuali Ali). Kaum Syiah menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama daripada seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Sesuatu yang oleh Ali bin Abu Thalib sendiri pernah disanggahnya semasa beliau hidup.

Pencetus pertama paham Syi’ah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa,).” (Majmu’ Fatawa, 4/435).
Tak pelak, ajaran Syiah sudah dianggap sebagai ajaran sesat dalam Islam dan ulama-ulama besar internasional pun sudah mengharamkannya. Dan dengan kemenangan Ahmadinejad sekarang ini, tampaknya nasib kaum Sunni di Iran akan tetap terus tertindas dan tertekan.
sumber