Minggu, 25 Januari 2009

BERLEPAS DIRI

BERLEPAS DIRI
Oleh : H. Zulkifli Imam Said


Firman Allah :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ(170)


Artinya : “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"
(Q.S. Albaqarah:170).

Di surat Al-Baqarah ayat 168 dan 169 Allah katakan bahwa di akhirat nanti akan berlepas diri orang yang diikut dari orang yang mengikut dan adanya penyesalan dari orang yang mengikut dan penyesalannya itu tiada ada artinya.
Sekarang diayat 170 Allah SWT gambarkan bahwa ada orang yang berbuat yang tidak benar, mereka hanya mengikuti apa yang telah dibuat nenek moyang mereka.
Kita yang diizinkan mengetahui informasi dari Alqur’an ini untuk tidak mengikuti yang salah, walaupun yang melakukan itu bapak atau nenek moyang kita. Sebagai generasi yang akan datang harus pandai membaca apa yang telah dibuat generasi terdahulu. Kelebihan mereka kita tiru dan kekurangan mereka kita tinggalkan sehingga kita akan menjadi generasi unggulan.
Kita dilarang mengikut yang salah dan disuruh mengikut yang benar walaupun yang melakukan orang kafir, kalau benar maka kita ikuti karena yang benar itu pasti datang dari Allah SWT (ALHAQQU MIRRABBIKA)
Allah ingatkan kita dengan Wal ‘Asri maka kita coba terjemahkan dalam kehidupan kita. Kita tidak mau menjadi Ghofilun (lalai) karena ini akan menghambat kemajuan kita.
Ada rumah makan di beberapa kotai yang khas dengan ayam gorengnya. Ternyata kelebihannya, setelah ayam di sembelih langsung digoreng tidak dibiarkan terletak dahulu. Jadi nampak, untuk menginginkan hasil terbaik tidak boleh lalai.
Kalau kita lihat orang tua kita lalai, maka kita tidak akan ikuti dan kita ingatkan mereka tentang bahayanya jika lalai dalam hidup ini. Kita hormat kepada orang tua, tapi apa yang salah dari mereka tidak akan kita ikuti, jangan kemalasan orang tua menjadikan alasan untuk berbuat hal yang sama. Kita harus punya jati diri, kita ingin sukses tanpa menumpang kesuksesan orang tua.
Mudahan-mudahan kita bisa menjadi yang terbaik, dari yang baik. Amin

HALAL LAGI BAIK

HALAL LAGI BAIK
Oleh : H. Zulkifli Imam Said


Firman Allah :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(168)إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ(169)

Artinya : “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S. Albaqarah:168-169).

Dalam ayat ini Allah tujukan untuk seluruh manusia agar memakan apa pun yang ada di bumi dengan syarat yaitu halal dan baik.
Karena memang ada makanan yang halal tapi pada saat tertentu makanan itu tidak baik. Seperti durian jelas halal tapi pada saat tertentu durian itu tidak baik saat itu kita tidak boleh memakannya.
Ini harus menjadi perhatian, karena sekarang banyak makanan yang bentuknya halal tapi zat yang ada pada makanan itu tidak baik bagi kesehatan dan pada saat itu makanan tersebut tidak boleh kita makan.
Sekarang orang berusaha agar makanan yang dibuat kelihatan enak di pandang mata, segar dan mengundang selera. Untuk itu mereka tidak segan-segan menggunakan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan.
Masing-masing Negara atau daerah punya makanan khas sendiri yang diminati oleh daerah atau Negara asal makanan tersebut. Sekarang orang membuat makanan yang diminati oleh seluruh daerah atau Negara, seperti ketika diatas pesawat, makanan yang disuguhkan benar-benar cocok untuk seluruh lidah sehingga negara manapun akan suka dengan makanan tersebut, untuk itu mereka upayakan makanan itu menarik, awet dan mudah dalam penyajiannya.
Seperti mie misalnya, kalau sekali-sekali kita memakannya mungkin tidak apa-apa kalau sudah menjadi kebiasaan maka hal itu bisa menyebabkan bahaya. walau itu enak dan praktis. Tapi bila jadi kebiasaan akan berbahaya, maka itu tidak kita sediakan.
Hidup ini tidak lebih dari kebiasaan. Perokok misalnya, dia tahu rokok itu tidak baik untuk kesehatan, tapi karena telah menjadi kebiasaan maka susah untuk menghentikannya.
Ada seseorang yang mengatakan dia punya adik yang tidak mau di ajari dengan berbagai ilmu. Adiknya mengatakan, kalau saya pandai, nanti selalu saya yang disuruh, sehingga dia tidak mau memiliki banyak ilmu (Subhanallahu, ternyata masih ada orang yang berpikir malas seperti itu ).
Kita hidup didunia sekali dan sangat sebentar. Kalau kita malas dan sedikit kepandaian berarti kita hidup tidak bermanfaat. Alangkah malangnya kita hidup di dunia tapi tidak bermanfaat. Maka usahakanlah diri kita betul-betul bermanfaat dan mari sama-sama kita berdoa “ Ya Allah, Berikanlah kami kehidupan kalau kami masih bermanfaat dan matikan kami kalau kami tidak bermanfaat lagi. Amin

KESENANGAN YANG BERMANFAAT

KESENANGAN YANG BERMANFAAT
Oleh
H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِوَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164)


Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Q.S. Albaqarah:164)



Allah mengatakan, silih bergantinya malam dan siang sungguh terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Kita melihat Allah tidak main-main dengan waktu. Banyak ayat Al-Qur’an dimana Allah bersumpah dengan waktu, seperti Wal Asri, Wal lail, Wal Fajri dan lain sebagainya. Ini menunjukkan agar orang yang membaca dan mendengarnya berhati-hati dalam menggunakan waktu.
Setiap waktu harus diisi dengan yang bermanfaat. Orang kafir berusaha agar kita melalaikan waktu, walasri kita yang punya tapi dalam menghargai waktu orang kafir yang lebih unggul.
Orang-orang yang ingin menguasai dunia dan tidak ingin negara berkembang menjadi negara maju, akan berusaha untuk membuat orang-orang yang hidup di negara berkembang menjadi manusia lalai.
Pabrik rokok mereka yang punya sedangkan kita yang tukang isap rokoknya. Mereka buat pertunjukkan band diberbagai kota untuk meracuni remaja kita, berbondong-bondong remaja menyaksikan, berdesakkan laki-laki dan perempuan bahkan ada yang makan korban.
Generasi kita sudah diracuni dengan musik, playstation, yang menyebabkan mereka malas belajar. Sedangkan generasi mereka, mereka jaga sebaik-baiknya diajar disiplin yang ketat. Generasi mereka tumbuh dengan disiplin tinggi sementara generasi kita tumbuh dengan malas penuh khayalan.
Mereka betul-betul menghargai waktu, 5 menit saja terlambat sudah kesalahan besar sementara kita terlambat satu jam pun tidak merasa bersalah.
Jangan biarkan ada waktu kosong dalam hidup, karena syaitanlah yang akan mengisi kekosongan itu. Waktu kosong digunakan untuk berkelakar dan menyinggung perasaan teman, ini bahaya sekali. Pada awalnya hanya seloroh tapi syaitan masuk akhirnya bisa menjadi pertengkaran. Kita lihat bencana besar pada awalnya karena kesalahan kecil, karena lalai dalam mempergunakan api bisa menyebabkan kebakaran besar.
Usahakan dalam hidup ini, kita tidak menyakiti hati orang lain maka bisa hidup dengan aman, seperti kata Gandi “Dunia ini jahat maka perlakukanlah dunia ini dengan baik, baru anda bisa hidup di dunia”. Ini jelas agama kita yang punya. Nabi katakan tebarkan salam artinya kitalah yang menebarkan keselamatan, dimana kita berada yang ada disekitar kita akan merasa aman.
Sasaran pendidikan di Indonesia menciptakan “Insan Kamil” kalau sasaran ini berhasil tentu anak SLTP lebih bagus akhlaknya dari anak SD, anak SMU lebih bagus akhlaknya dari anak SLTP begitu juga mahasiswa akan lebih bagus akhlaknya dari anak SMU.
Kenyataan yang kita lihat, kita tidak bisa membedakan antara mahasiswa dengan preman, baik dari segi cara berpakaian, adab atau tutur katanya tidak tampak tanda-tanda sebagai seorang yang berpendidikan/ intelektual.
Allah mengatakan dalam ayat ini, “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi di jadikan ikhtibar bagi orang yang mau berfikir”. Subuh sekarang bukanlah subuh yang kemaren, tidak ada orang yang sanggup mengembalikan subuh yang kemaren. Ketika datang pergantian hari, mari kita sambut dengan optimis dan penuh semangat.
Kalau hati yang mau serta semangat yang tinggi, tidak ada kata susah. Susah bagi yang tidak menginginkannya.
Dalam ayat ini Allah juga katakana, Allah telah menurunkan air dari langit untuk kehidupan di bumi. Ketika hujan, saat itu Allah membagi air kehidupan maka jangan pernah mencela ketika hujan turun. Seharusnya kita berdoa ketika hujan turun “ Ya Allah Engkau telah turunkan hujan di bumi ini, Ya Allah Engkau turunkan pula rahmat-Mu kepada kami Ya Allah”, Amin
Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil pelajaran dari apa-apa yang telah diciptakan Allah SWT. Amin

SUCIKAN DIRI DENGAN BERPUASA

SUCIKAN DIRI DENGAN BERPUASA
Oleh:
H. ZULKIFLI IMAM SAID


Firman Allah:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya : Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah:129)


Bila kita perhatikan Al Qur’an mulia dari sekian banyak tugas Rasul salah satunya ialah membersihkan manusia, yang dibersihkan bukan fisik tapi adalah hati manusia. Bila hati itu baik maka baik pulalah kerja manusia itu, dan bila hati manusia jelek maka jelek pulalah kerja manusia itu.


Perbuatan manusia adalah gambaran dari hatinya. Melalui perbuatan seseorang dapat dibaca hatinya. Untuk memperbaiki hati itu manusia harus beribadah kepada Allah SWT. Salah satu dari Ibadah itu adalah puasa. Setiap bulan Ramadhan or­ang beriman itu diperintah berpuasa, dengan puasa itu diharapkan manusia akan memiliki pribadi mulia (taqwa). Pribadi taqwa akan didapatkan bila benar-benar kita puasa berlandaskan Iman dan perhitungan.
Dikatakan demikian karena Rasulullah juga menjelaskan banyak orang yang berpuasa hadiahnya hanya sekedar lapar dan dahaga saja, nilai disisi Allah kosong sama sekali. Ada anggapan sebahagian orang bila mereka telah menahan lapar dan haus otomatis mereka akan menjadi orang bertaqwa, tidak demikian tapi harus diperhatikan hikmah dari puasa itu. Allah tidak ingin kita lapar. Bila dengan puasa itu lahir pribadi yang agung barulah bernilai puasa itu, inilah yang dicita-citakan.
Orang beriman itu diperintahkan meninggalkan yang halal, milik sendiri yang didapat secara halal dilarang memakan dan menikmatinya siang hari dibulan Ramadhan. Pribadi yang telah berani meninggalkan yang halal tentu tak mungkir, akan menjamah yang haram/makruf. Bila ada orang berpuasa tetapi biasa saja memakan yang haram tentu puasa yang dilakukan bukan karena Iman dan perhitungan. Mungkin karena segan dan ikut-ikutan, orang yang berpuasa ikut-ikutan itu jauh sebelum bulan Ramadhan pemikirannya sudah tertuju kepada pemuasan dibulan Ramadhan.
Sering kita dengar waktu ceramah tarawih ustadz menyampaikan ada orang jauh sebelum puasa telah menyediakan segala kebutuhan puasa seperti gula, gula puasa, cabe, cabe puasa, daging, daging puasa, ayam, ayam puasa dan lain sebagainya, yang terpikir bagaimana memuaskan selera dibulan puasa itu. Setiap sore keliling mencari makanan yang sedap untuk berbuka. Bila puasa telah berlalu beberapa hari perhatian beralih pula kepada kebutuhan lebaran, pakaian, perabot rumah tangga, kendaraan dan lain sebagainya, karena banyaknya kebutuhan berubahlah puasa dari menahan jadi berpuas. Hilanglah nilai agung dari puasa itu.
Selain daripada Iman juga diperlukan kehati-hatian dalam menjaga ibadah puasa dan segala yang akan merusaknya. Kita tahu puasa untuk pengontrol nafsu, nafsu yang tak terkontrol senantiasa menyuruh kepada kekejian dan kemungkaran.
Bila ada kekejian dan kemungkaran itu adalah kerja nafsu yang tak terdidik dan terkontrol. Mudah-mudahan puasa yang kita lakukan ini dapat merobah sikap dan perbuatan kita. Ibarat berpuasanya ulat di dalam kepompong, sebelum berpuasa ulat binatang yang menjijikkan dan setelah keluar dan kepompong menjadi kupu-kupu Indah dan menawan, mudah-mudahan demikian juga dengan kita, Amin

TIDAK ASAL IKUT

TIDAK ASAL IKUT

Oleh :
H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah :

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ(166)وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ(167)

Artinya :“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka”. (Q.S. Albaqarah:166-167).

Allah katakan bahwa diakhirat nanti akan berlepas diri orang-orang yang diikut dari orang yang mengikut, maka ketika kita hidup di dunia ini kita dilarang asal ikut. Sudah banyak kita saksikan bahwa orang yang mengikuti pada umumnya jadi korban. Seperti pada masa kampanye pemilu, pengikut rela berpanas-panasan, menentang bahaya dengan naik bak terbuka. Sementara yang di ikut setelah terpilih nanti tidak kenal lagi dengan pengikutnya.
Kalau tidak pasti benarnya jangan ikut, pelajari dulu dan tidak asal ikut, karena ujung-ujungnya penyesalan. Seperti di dunia saja kita bisa lihat ketika kawanan pencuri tertangkap saat itu mereka akan berlepas diri dan saling menyalahkan, padahal sebelumnya satu komplotan.

Dalam mengikuti sesuatu, jangankan dengan orang lain, dengan orang tua sendiri pun kalau salah tidak kita ikuti. Kita harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak mudah di iming-iming dengan apapun kalau tidak jelas benarnya, seperti pergi kampanye yang hanya bermodal kaos, mau berkorban segalanya. Yang boleh diikuti adalah orang benar seperti yang ada pada surat Al-Fatihah ayat 7.


Artinya : “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.


Kita lihat orang sukses, kita ikuti apa yang bisa menyebabkan dia sukses. Tentu sukses yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Dalam ayat ini Allah SWT katakan bahwa orang yang mengikut akan menyesal akhirnya, penyesalan itu tiada gunanya. Islam mengajarkan kita, apapun yang kita lakukan pastikan akibatnya.
Kita melahirkan sebab, sebab baik yang kita lahirkan akan menuai pahala dan sebab buruk yang kita lahirkan akan menuai azab dari Allah SWT. Allah mengatakan, kami tidak mengazab mereka tapi sikap merekalah yang membuat mereka teraniaya.
Jelas sukses atau gagalnya seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri. Diri kitalah musuh kita sebenarnya. Ketika kita ingin sukses diri kita ingin malas. Melalui diri kita syaitan masuk menyebabkan kita malas dan tidak bersungguh-sungguh.
Orang sukses akan nampak penuh semangat. Seperti pergantian tahun baru ini, diberitakan di Koran ada seorang bapak tua membeli terompet , ketika ditanya kenapa dia beli terompet dia tidak tahu. Yang diketahuinya bahwa semua orang beli terompet maka dia pun ikut membeli tanpa tahu apa gunanya.
Walaupun banyak yang mengerjakan tapi tak jelas benarnya maka kita tidak akan mengikutinya, seperti banyaknya orang menonton TV berjam-jam membuang-buang waktu, ini tidak akan kita ikuti karena kita ingin hidup bermanfaat dan hanya ingin menjadi pengikut kebenaran agar tidak menyesal nantinya.

ALLAH SEGALANYA

ALLAH SEGALANYA
Oleh. H. Zulkifli Imam Said


Firman Allah :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ(165)


Artinya : “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
Dan

Artinya : Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Q.S. Albaqarah:165)

Dalam surat Al-Baqarah ayat 164 Allah katakan “Dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut, membawa apa yang berguna bagi manusia. Ini semua menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah”.
Begitu jelasnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di ayat 164, ternyata diayat 165 masih ada orang yang mencari tandingan atau kekuatan selain Allah, masih ada orang yang mempersekutukan Allah. Mereka mempunyai tandingan selain Allah, orang yang seperti ini walaupun mengakui adanya Allah tapi membuat Andaad-Andaad maka pecahlah Tauhid orang tersebut.
Lemah sekali manusia kalau tidak bertauhid. Tempat bergantung itu yang tidak kuat, sehingga hidup dalam ketakutan, beda dengan manusia bertauhid yang punya rohani yang kuat.
Bisa kita lihat kehidupan Rasul, Para Sahabat dan orang-orang sholeh yang mempunyai rohani kuat, tidak ada yang ditakutkannya dalam hidup ini, kecuali hanya takut pada Allah SWT sehingga mereka tidak ragu-ragu dalam melangkah.
Orang yang memiliki Andaad (musyrik), sama seperti orang yang punya banyak majikan, alangkah repotnya seseorang kalau punya banyak majikan. Majikan A menyuruh berdiri, baru dia berdiri, majikan B menyuruh duduk dan baru dia duduk. Datang pula majikan C menyuruh dia berlari, alangkah repotnya hidup ini.
Ini yang kita lihat sekarang ini, Andaadnya mengatakan bahwa akan terjadi tsunami maka larilah dia ke gunung ternyata di gunung ada pula Andaad yang lain mengatakan gunung akan runtuh maka bingunglah kemana mau lari lagi. Beruntunglah orang yang benar Tauhidnya kepada Allah, dia tahu Allah mengatakan : “Tidak Akan Ada Yang Menimpa Kecuali Dengan Izin Allah”. Orang yang benar tauhidnya hanya bergantung pada Allah tidak dengan makhluk yang berubah-ubah sifatnya, sekarang teman besoknya lawan, sekarang sayang besok kebencian.
Untuk menjadi manusia bertauhid tidak mudah. Harus kita latih diri dan kita lawan nafsu yang ada pada diri kita sendiri. Orang yang bertauhid apapun yang di perintahkan Allah SWT tidak ragu untuk melakukannya. Seperti Nabi Ibrahim yang sudah lama merindukan kehadiran seorang anak. Ketika sang anak tumbuh menjadi remaja datanglah perintah penyemblihan dari Allah SWT, karena memang Ibrahim orang yang bertauhid suruhan Allah SWT itu tidak ragu di kerjakannya. Begitu juga dengan anaknya Ismail, kalau perintah Allah maka segerakanlah karena tidak ada perintah Allah SWT yang tidak mendatangkan keuntungan. Maka kita harus catat ini “Perintah Allah SWT Tidak Pernah Merugikan”.
Masih banyak sebenarnya orang yang paham bahwa perintah Allah SWT kalau dikerjakan pasti mendatangkan keuntungan. Sikap ini yang harus kita miliki dan kita latih dari sekarang. Sebagai seorang Muslim kita cari ilmu sebanyak-banyaknya kemudian kita ajarkan ilmu tersebut. Kita cari harta sebanyak-banyaknya dan kita infakkan kepada yang membutuhkan tanpa ada rasa rugi karena jelas semua akan diganti oleh Allah SWT.